Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Wednesday, December 5, 2018

Ada Apa Saja di Perkembangan Anak 3 Tahun, ya? Mum Perlu Belajar, nih.


Si kecil baru saja melewati ulang tahun ke-3nya, dan Mum sudah terheran-heran dengan perubahan
pesatnya? Tak perlu kaget, Mum. Karena perkembangan anak 3 tahun memang amat menakjubkan
sekaligus menantang. Para ahli terkadang mengatakan, "Welcome to threenager phase."
Banyak sekali perkembangan anak 3 tahun yang Mum bisa amati dan pelajari. Namun, tentu saja,
Mum juga harus menyiapkan diri dengan napas panjang serta kesabaran menghadapi para threenager
cilik ini. Selebihnya, selamat bersenang-senang!
Adakalanya si Kecil menguji aturan Mum dan pasangan. Meskipun begitu, frekuensi tantrum-nya bisa
dibilang lebih jauh berkurang dibanding saat usianya 2 tahun. Fokus perhatiannya juga sudah mulai
terasah, sehingga si Kecil tidak mudah terditraksi. Mum sudah mulai bisa membiarkannya bermain
sendiri, tanpa perlu mengkhawatirkannya merusak benda-benda untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
Yuk, kita simak perkembangan apa saja yang bakal si Kecil hadapi di usia 3 tahun.

Fisik

  • Perkembangan fisik si Kecil sudah semakin baik. Poros tubuhnya sudah menemukan
  • keseimbangannya. Meskipun masih kesulitan mendarat di dua kakinya saat melompat, namun si Kecil sudah bisa naik turun anak tangga dengan sigap. Dia juga sudah bisa menyimbangkan gerak tangan dan kaki bersilang, yang membuatnya siap belajar mengayuh sepeda roda tiga.
  • Sudah bisa melihat arah bola yang dilempar kepadanya, lalu menangkapnya dengan kedua tangan, atau tubuhnya.
  • Sudah bisa belajar berjalan berjinjit atau bertumpu pada tumit, bahkan berdiri di atas satu kaki untuk waktu sebentar.
  • Mampu mendorong atau menarik benda-benda besar, seperti stroller atau kereta belanja, lurus maupun berbelok.

Sosial

  • Jiwa empatinya mulai tumbuh. Si Kecil akan mulai tertarik membantu pekerjaan rumah. Kebanyakan menirukan gerak-gerik Mum saat menyapu, membereskan tempat tidur, atau memasak. Namun tentu saja, tidak dalam rentang waktu yang panjang, atau sampai selesai. Si Kecil akan segera teralihkan jika ada aktivitas lain yang lebih menarik lagi. Untuk itu, sebaiknya Mum tidak terburu-buru melarangnya saat mencoba membantu menyapu. Meskipun, hasilnya belum sempurna, tetap beri apresiasi padanya. Itu akan membuat empatinya tumbuh.
  • Sangat menyukai kegiatan mengangkat dering telepon, dan mendengar suara orang yang menelepon. Namun, belum terlalu mengerti dan tanggap untuk segera memberikannya kepada Mum. Beri pengertian sekaligus mengajarkan tata krama menerima telepon kepadanya.
  • Sangat antusias pada perayaan ulang tahun atau peringatan hari raya. Yang membuat si Kecil menumbuhkan keberaniannya untuk terlibat pada suasana yang ramai orang. Dia sudah cukup siap untuk berinteraksi bermain bersama anak lain dan membangun kehidupan sosial.

Akal

  • Penguasaan kosa katanya sudah berkembang jauh menjadi 900 kata. Membuat si Kecil sudah dapat memahami instruksi sederhana sekaligus mematuhinya. Si Kecil juga sudah bisa mengungkapkan pendapat maupun keinginannya, dalam susunan kalimat pendek dan sederhana. Jika Mum terbiasa mendongeng atau bercerita, akan membuatnya semakin terstimulasi mengembangkan kemampuannya verbalnya semakin pesat.
  • Kemampuan berfantasinya juga mulai berkembang. Si Kecil akan mulai mengarang cerita yang berdasarkan khayalannya. Dia akan mulai suka bercerita pada orang-orang dewasa di sekitarnya.
  • Mulai banyak memberi pertanyaan tentang berbagai hal. Persiapkan diri Mum untuk menerima pertanyaan "Kenapa" berulang kali dari si Kecil.
  • Sudah bisa menganalisa logika dalam dongeng yang ia dengar. Dan mudah menyamakan kehidupannya dengan kehidupan di dalam dongeng.
  • Sudah mengembangkan rutinitas. Si Kecil di usianya yang memasuki 3 tahun, sudah cukup mahir mengetahui jadwal hariannya. Seperti kapan jam makan, mandi, dan tidur siang.
  • Mulai mengembangkan ego ke"aku"annya. Si Kecil akan lebih menguji batasan-batasan aturan keluarga yang Mum tetapkan. Kemampuan negosiasinya berkembang dan ngeyelnya pun mulai timbul.
Nah, itu tadi beberapa perkembangan anak 3 tahun yang dapat Mum simak. Cukup menantang
dan menyenangkan, bukan? Happy parenting!

Sunday, November 25, 2018

Memahami Optimal Tidaknya Perkembangan Fisik Anak Di Usia 2 Tahun


Penting untuk mengetahui perkembangan fisik anak sejak masih kecil. Bunda yang memahaminya
akan tahu secara keseluruhan tentang kemajuan yang dimiliki buah hati. Mulai ketika memasuki usia
mingguan, bulanan sampai tahunan.
Fisik anak akan terus berkembang sesuai usianya. Perkembangan ini lazim dimiliki oleh anak.
Kemajuannya akan mencengangkan bunda sendiri.
Selain kekuatan tubuh dan bertambah tingginya si kecil, buah hati akan mulai melakukan banyak
kegiatan. Anak akan mulai bergerak kesana kemari dengan sangat percaya diri. Tentunya diimbangi
dengan koordinasi, keseimbangan dan kemampuan mengontrol sistem motoriknya yang jauh lebih baik.
Kemampuan fisiknya ini bisa dicontohkan dengan kemampuan anak dalam berdiri. Di  awal, si kecil
mungkin akan terjatuh karena belum memiliki keseimbangan. Namun beberapa saat kemudian,
anak akan mampu berdiri dengan baik, berlarian sampai melompat.
Keterampilan inilah yang harusnya diperhatikan oleh bunda. Tapi pastikan bahwa bunda tahu apa saja
yang bisa dilakukan anak di usianya yang masih 2 tahunan. Karena keterampilan anak disesuaikan
dengan usianya. Artinya, idealnya anak usia 2 tahun sudah bisa melakukan beberapa kegiatan tapi
masih jauh dari kata sempurna.
Gunanya Mengikuti Perkembangan Fisik Anak
Keterampilan yang melibatkan kekuatan fisik ini mengacu pada perkembangan motorik anak.
Perkembangan motorik ini akan berbeda-beda pada anak. Tergantung kondisi yang dialami oleh anak.
Ketika fisik anak lemah, keterampilan yang melibatkan kekuatan fisiknya tidak akan muncul seperti
yang diinginkan. Sebaliknya bila kekuatan fisiknya besar, keterampilannya dalam memanfaatkan
fisiknya akan cukup membuat bunda takjub.
Bagi bunda, memahami perkembangan fisik dari buah hati ini sangat penting. Banyak manfaat yang
bisa bunda dapatkan dari seringnya memperhatikan hal tersebut. Salah satunya adalah untuk
memastikan apa yang mungkin kurang dari pendampingan bunda pada anak.
Contohnya bila anak usia tertentu belum mampu melakukan banyak hal seperti kebanyakan anak usia
tersebut. Bunda tentunya akan menyadari bahwa ada beberapa hal yang mungkin bunda tidak penuhi.
Misalnya anak belum mau berdiri di usia 1 tahunan lebih. Bunda mungkin akan bertanya-tanya tentang
apa masalahnya. Bunda bisa langsung mengupayakan banyak hal untuk mendukungnya. Mulai dari
mencukupkan kebutuhan nutrisinya untuk menunjang kekuatan fisiknya sampai mengobatkan anak bila
terjadi masalah.
Selain itu, bunda juga bisa memasukkan ide-ide untuk menstimulasi kemampuan yang harusnya
dimiliki oleh anak. Stimulasi ini bisa menjadi jawaban kenapa anak belum mau menunjukkan
keterampilannya.
Pemberian stimulasi ini setidaknya akan menentukan seberapa jauh kemajuan fisik anak. Bahkan,
bunda bisa mengukur ketepatan stimulasi yang diberikan pada anak.
Intinya, kegunaan dari memahami kemajuan anak adalah untuk memantau apa saja yang berhubungan
dengan keterampilan anak. Ketika didapati kemajuan anak meningkat, berarti bunda sebenarnya telah
tepat dalam menjaga anak.
Sebaliknya bila anak tidak kunjung menunjukkan keterampilan khusus di usia tertentu, berarti ada yang
kurang dari pendampingan bunda. Entah itu belum cukupnya nutrisi yang diberikan pada anak, ataupun
kurangnya stimulasi yang diberikan pada anak.
Dengan memahami keduanya, bunda akan tahu secara pasti apa yang bakalan bunda lakukan untuk
mendukung perkembangan fisik anak. Makanya, bunda yang bijak adalah bunda yang punya banyak
waktu untuk anaknya, serta mau mengajari banyak hal untuk meningkatkan keterampilan yang dimiliki
buah hatinya.
Ciri Kemajuan Fisik Anak Usia 2 Tahun
Anak usia 2 tahunan tentu saja sudah bisa melakukan banyak hal. Karena fisiknya sudah sangat kuat
dibandingkan sebelumnya.
Begitu banyak hal-hal hebat yang telah mampu dilakukannya. Ini menunjukkan adanya kemajuan
dalam pertumbuhannya. Meskipun begitu, terkadang ada juga anak yang belum mampu untuk
melakukan banyak hal.
Belum mampunya anak melakukan kegiatan fisik menandai adanya masalah dalam diri anak.
Inilah yang harus dipahami oleh bunda. Tentunya supaya buah hati tidak tertinggal dengan teman
sebayanya.
Bicara mengenai perkembangan fisik anak usia 2 tahun, bunda harus memahami kegiatan apa saja
yang sebenarnya anak telah mampu lakukan. Jadi, bunda perlu tahu idealnya anak saja, atau rata-rata
yang menandai kemajuan anak di usia 2 tahunan.
Ciri-ciri anak usia 2 tahun yang berkembang fisiknya adalah aktifnya anak dalam mengeksplor
lingkungannya. Artinya, ada keaktifan anak di dalam dunianya. Membuat anak bisa berpindah
kemanapun yang ia sukai.
Beberapa hal yang sudah dikuasainya adalah berguling, merangkak, berdiri, berlari sampai memanjat.
Kesemuanya telah mampu dilakukan dengan sangat hebatnya.
Kemudian, anak juga sudah mampu memegang erat benda seperti bola. Bahkan juga bisa menendang
ke posisi yang diinginkannya.
Apabila Anak belum mampu melakukannya, berarti ada keterlambatan dalam perkembangan fisiknya.
Bisa jadi ini disebabkan oleh lemahnya tubuh. Artinya, kekuatan fisiknya masih lemah lantaran tidak
terbentuk sempurna.
Hal ini juga bisa disebabkan terlalu gemuknya anak. Anak yang terlalu gemuk akan malas untuk
berlarian/melompat. Karena anak merasa kewalahan dengan berat badannya.
Maksudnya, anak tidak kuat menopang tubuhnya sehingga membuatnya malas untuk berpindah ke
tempat lainnya.
Ketika ini terjadi, sudah semestinya bunda perlu menurunkan berat badannya. Setelah itu, rajinlah
untuk mendorong anak agar mau melakukannya. Contohnya adalah dengan memberikan permainan
yang memungkinkan anak untuk melatih kemampuan fisiknya.
Salah satu contoh permainan yang bisa dimainkan dengan anak adalah permainan menggelindingkan
bola. Caranya adalah dengan duduk berhadapan dengan anak. Rayu anak agar mau menangkap bola.
Jika sudah terbiasa, anak biasanya akan menangkap erat, bahkan bisa juga melemparnya. Ini menandai bahwa ada perkembangan dibandingkan sebelumnya. Intinya, meneliti perkembangan fisik anak ini ditujukan untuk melihat seberapa besar perkembangannya di tiap usianya.

Sunday, November 18, 2018

Perkembangan Anak Usia 2 Tahun, Sudah Bisa Apa?

Apa saja yang sudah bisa dilakukan di perkembangan anak usia 2 tahun? Pada usia anak 2 tahun, seharusnya tumbuh kembangnya sudah mulai banyak ya bunda. Baik fisik, motorik maupun otaknya mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Bunda sebagai orang tua harusnya tahu apa-apa saja yang seharusnya terjadi pada si kecil usia 2 tahun mengenai pertumbuhan perkembangannya. Nah, untuk itu silahkan simak ulasan kami berikut ini tentang tumbuh kembang anak usia 2 tahun.

Menurtu Erikson, setiap anak memiliki perkembangan anak usia 2 tahun yang berbeda-beda. Mungkin sebagian besar perkembangan anak akan urut sesuai kemampuannya. Namun ada juga anak yang perkembangannya tidak urut seperti pada umumnya. Meskipun demikian, setidaknya bunda harus tahu pedoman tahapan perkembangan anak sesuai usianya sehingga bisa menilai apakah si kecil tumbuh dan berkembang normal seperti di usianya.

Banyak contoh tumbuh kembang anak usia 2 tahun yang biasanya terlihat jelas oleh orang disekitarnya. Karena ketika anak berusia 2 tahun, syaraf otaknya mulai terbentuk dan tak terhitung jumlahnya. Jadi, jangan heran jika anak diusia ini sudah sangat pintar dalam mengutakaran maksudnya atau mengeksplore kemampuannya. Nah, apa saja sih perkembangan anak usia 2 tahun yang ideal?

Perkembangan Anak Usia 2 Tahun Yang Ideal
  • Pertumbuhan fisik
Dari segi fisik, banyak yang terjadi pada anak ketika menginjak usia 2 tahun. Biasanya pada usia ini si kecil mengalami pertumbuhan 16 gigi pertamanya. Selain itu, berat dan tinggi badan anak juga mengalami kenaikan. Umumnya idealnya, berat badan anak 2 tahun adalah sekitar 10-13 kilogram dengan tinggi badan kisaran 84-89 cm.

  • Perkembangan sensorik dan kognitif
Selain fisik, sensorik dan kognitif anak juga mengalami perkembangan. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan bicara pada anak. Anak usia 2 tahun sudah bisa menggabungkan 2-3 kata bahkan dapat merangkai sebuah kalimat. Kosa katanya juga semakin banyak, sehingga ia bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan. Misalnya, ketika ia haus atau lapar dia bisa mengatakan dan berkomunikasi dengan orang terdekatnya dengan lebih jelas. Si kecil sudah belajar melepas dan memakai baju sendiri serta memahami nama bagian-bagian tubuhnya.

  • Perkembangan keterampilan motorik
Dari segi keterampilan motorik, anak usia 2 tahun juga sangat terlihat yaitu si kecil bisa berlari dengan koordinasi dengan baik. Sehingga ketika berjalan dan berlari ia mulai bisa menyeimbangkan tubuhnya menjadi lebih baik. Ketika berada di lingkungan sekitar, ia bisa aktif seperti menendang bola, menyusun balok, mrangkai puzzle dan lain sebagainya. Untuk yang lebih terampil, anak juga sudah bisa naik turun tangga sambil berpegangan.
  • Perkembangan emosi dan sosial
Yang terakhir adalah perkembangan emosi dan sosial anak juga berkembang. Usia 2 tahun anak sudah bisa mengendalikan emosinya sehingga tidak mudah menangis. Ia mulai bisa mandiri dan menirukan sikap orang lain atau orang yang ada disekitarnya. Pada usia ini si kecil juga terkadang suka gemas dan relek memeluk atau bahkan mencubit orang yang ada disekitarnya.

Nah, itulah beberapa perkembangan baik dari segi fisik, emosional, sensorik serta motorik. Sebetulnya masih ada 1 lagi yaitu perkembangan anak usia 2 tahun dari segi memori tapi mungkin akan dibahas lain waktu. Bagaimana bunda, apakah si kecil juga mengalami perkembangan seperti yang kami sebutkan tadi? Jika tidak, bunda tidak perlu khawatir karena memang setiap anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda. Konsultasikan ke dokter anak untuk tahu pertumbuhan dan perkembangan anak. semoga bermanfaat.

Sunday, November 4, 2018

Fase Paling Fundamental Yang Menandai Perkembangan Motorik Anak

Setiap anak akan mengalami beberapa fase terkait motorik kasar anak. Tahapan ini menandai bahwa adanya peningkatan kemampuan si kecil. Dan keterampilannya akan semakin sempurna seiring bertambahnya usia.
Keterampilan dalam memadukan pemikiran sebagai sumber penggerak dengan otot sangatlah berpengaruh. Keterpaduan antara keduanya membuat keseimbangan. Hasilnya, anak mampu melakukan sejumlah aktifitas.
Sempurnanya kemampuan ini bakalan mendukung keberhasilannya di masa mendatang. Karena hampir keseluruhan hidup seseorang akan memanfaatkan kemampuan fisiknya. Makanya, seseorang yang bisa memadukan otak dan otot akan cenderung memiliki presentase sukses lebih besar dari pada yang tidak.
Nah, bicara mengenai perkembangan motorik kasar, Gallahue dan Ozmun dalam bukunya yang berjudul Understanding Motor Development mengatakan jika perkembangan motorik yang dimiliki anak berbeda-beda. Namun begitu, tahapannya tetap sama. Yaitu terbagi menjadi tiga fase seperti berikut.
Fase Gerakan Motorik Kasar Pada Anak
Dikatakan bahwa anak akan mengalami tiga fase yang terbangun untuk kesempurnaan sistem motorik kasarnya. Gabungan dari ketiganya menentukan keberhasilan perkembangannya. Dan inilah yang perlu dilatih oleh anak.
  1. Fase Gerakan Lokomotor
Bicara tentang motorik kasar anak usia 3 tahun, ini tidak bisa dilepaskan dari urutan kegiatan yang dilakukannya. Kelincahannya dalam memanfaatkan anggota badannya diawali dengan hal-hal yang sederhana. Pastinya, ini perlu latihan yang memakan waktu lama.
Anak akan mulai mencoba untuk melakukan sejumlah kegiatan yang dimengerti. Yakni bagaimana cara memanfaatkan anggota tubuhnya untuk bergerak. Pemahaman ini didapatkan dari apa yang dilihatnya.
Setiap anak juga mengalami serangkaian fase terkait kemampuan tersebut. Salah satunya adalah fase gerakan lokomotor ini.
Fase ini berhubungan dengan bagaimana melakukan gerakan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tentunya, otot besar yang kuat akan mempengaruhi perindahannya ke area lainnya.
Contoh dari gerakan lokomotor adalah gerakan berjalan ke suatu tempat. Selain itu, gerakan melompat ke suatu area maupun menendang dengan keras juga merupakan bagian dari fase lokomotor. Fase ini pastinya akan terjadi pada setiap anak.
Kemampuan bergerak ke suatu tempat ini harus didukung dengan kekuatan fisiknya. Fisik yang kuat akan membuat kaki maupun kaki bisa menopang berat tubuhnya. Akhirnya, si kecil bisa bergerak sesuai tempat yang dituju.
  1. Fase Gerakan Nonlokomotor
Selain fase pertama, si kecil juga akan mengalami fase nonlokomotor. Pada tahap ini, bukan hanya kekuatan fisik saja, melainkan juga kemampuan dalam mengkoordinasikan otak dan sistem syaraf di dalam tubuh.
Fase ini berhubungan dengan bagaimana anak dalam menyeimbangkan tubuhnya. Kuncinya adalah koordinasi dari seluruh anggota tubuh dalam melakukan setiap gerakan. Buahnya adalah anak tidak mudah jatuh.
Contoh dari gerakan nonlokomotor adalah berayun, membungkuk dan memutar. Gerakan-gerakan ini memerlukan keterpaduan antara seluruh anggota tubuh. Fungsinya adalah menjaga keseimbangan saat melakukan gerakan.
Latihan sangat diperlukan untuk bisa membuat seluruh otot lentur. Pastinya, otot besar mampu berfungsi dengan sempurna sehingga si kecil tetap stabil.
  1. Fase Gerakan Manipulatif
Fase ketiga dari motorik kasar anak adalah gerakan manipulatif. Gerakan dilakukan untuk menangkap perhatian objek. Si kecil bisa melakukan apapun dengan obyek yang ada di sampingnya.
Gerakan manipulatif ini dicontohkan dengan gerakan menangkap benda, menggelindingkan benda sampai memukul. Yang pasti, gerakan yang dilakukan berhubungan dengan benda-benda sekitar.
Cara Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Pada Anak
Keterampilan ini menjadi bekalan dari dalam tubuh anak. Jaringan otot yang terbentuk sempurna bakalan mendukung semua gerakan. Dan gerakan-gerakan luar biasa ini akan terus mengalami peningkatan.
Meskipun begitu, beberapa kasus menyebutkan bahwa tidak semua anak memiliki keterampilan yang sama walaupun usianya sama. Pasalnya, ada tingkat kesukaran yang akan dijumpai sehingga anak belum mampu menguasainya.
Supaya anak tidak terlambat dalam memanfaatkan motorik kasarnya, praktek langsung seharusnya dilakukan. Dukungan dari bunda sangat diperlukan. Tujuannya adalah untuk memotivasi anak agar tidak takut untuk melakukannya.
Ketika anak muncul keberaniannya, anak akan bersemangat untuk mencoba. Dan ini akan dilakukan secara terus-menerus sampai menguasainya. Contohnya adalah bisa berjalan lancar, dan terlihat memiliki keseimbangan dalam gerakannya.
Sebelum memberikan motivasi, bunda juga perlu memilihkan satu jenis aktifitas. Aktifitas yang menyenangkan akan sangat menggugah rasa penasarannya. Dan aktifitas ini harusnya bisa memanfaatkan kekuatan fisiknya.
Contoh paling mudah adalah mengajarkannya teknik menari atau bermain dengan kekuatan fisiknya. Teknik yang dipilih harus disesuaikan dengan kemampuan si kecil. Artinya, jangan memaksakan kehendak dengan meminta untuk melakukan hal yang belum siap untuk dilakukan.
Memaksanya hanya akan menimbulkan resiko cedera. Ketika anak merasa tertekan dan tidak nyaman dengan aktifitasnya, praktis anak tidak akan mau melakukannya kembali. Akibatnya, bunda tidak bisa meningkatkan keterampilannya.
Mengenai jenis tarian ini, bunda bisa mencari referensinya di media internet. Banyak sekali jenis tarian yang dikhususkan untuk anak-anak. Gerakan-gerakan sederhana yang ada dalam tarian akan dipahami. Selanjutnya, anak akan mencoba menirunya di berbagai kesempatan.
Malahan, anak akan terus mencobanya di setiap kali. Karena anak bahagia mampu melakukannya. Ini bukti dari rasa aman dan nyaman ketika melakukan gerakan tersebut.
Dengan terbiasanya melakukan gerakan tersebut, si kecil akan terlatih otot-ototnya. Ototnya menjadi lebih kuat, mampu menopang tubuh, serta bisa menyeimbangkan tubuhnya saat bergerak.
Yang perlu dipahami oleh bunda adalah mengajarkannya. Kemudian perhatikan durasi waktunya. Bagi anak, cukup ajarkan sekitar 3 menitan. Itu sudah cukup untuk membantunya, dan tidak membuat anak kecapekan.

Itulah sekilas mengenai fase motorik anak dan cara meningkatkannya. Jadi, sudahkah bunda melatih motorik kasar anak selama ini?

Thursday, August 23, 2018

8 Tahap Perkembangan Anak Menurut Erikson



Semua orang penasaran dengan perkembangan anak-anaknya. Mereka pun meluangkan waktu untuk mempelajari tahap perkembangan anak. Alasannya, mereka ingin memiliki si kecil tubuh menjadi pribadi yang kuat dan berhasil di masa depannya.

Salah seorang psikogi yang senang meneliti dan memiliki landasan teoriperkembangan anak secara psikososial adalah Erikson. Fakta menarik adalah Erikson sendiri adalah seseorang yang sering di-bully saat kecil. Terlahir berambut pirang dan bermata biru, dia diejek oleh kaumnya sendiri, orang Yahudi. Di sekolah, dia selalu dikata-katain sebagai orang Yahudi. Dari situlah, dia pun melanjutkan penelitian terhadap anak-anak dan anak muda mengenai krisis perasaan dan identitas.
Menurut teori Erikson, ada 8 tingkat psikososial yang akan dilalui manusia. Pada setiap tingkatan ini, manusia perlu menanganinya konflik-konflik yang bisa menjadi titik balik dalam perkembangannya. Hal ini bisa berart memiliki resiko berhasil dan juga gagal.

1. Percaya dan Tidak Percaya antara 0-18 bulan
Rasa percaya adalah hal pertama yang akan dipelajari bayi terutama kepada ibu dan pengasuhnya. Apabila kebutuhan dia akan makanan, kasih sayang dan kebersihan cukup maka dia akan memiliki rasa aman dan percaya yang kuat. Namun bila sebaliknya yang terjadi, dia gak gampang percaya orang lain plus tidak ada rasa aman. Dia akan sering skeptis dan menghindari hubungan yang dilandasi rasa percaya.

2. Otonomi vs. Keragu-raguan dan rasa malu antara 18 bulan - 3 tahun
Pada tahap perkembangan anak ini, si kecil sudah bisa makan sendiri, berbicara dan berjalan. Orang tua juga memberikan kesempatan pada si kecil untuk eksplorasi dan bila diberi arahan dengan tepat, si kecil bisa tumbuh mandiri dan percaya diri. Namun orang yang terlalu kaku dan keras pada anak akan menumbuhkan si kecil yang kurang percaya diri dan kurang mandiri. Dia menjadi lemah dan tidak kompeten sehingga gampang merasa malu plu ragu-ragu pada kemampuannya sendiri.

3. Inisiatif vs Rasa Bersalah antara 3 - 6 tahun
Anak-anak pada usia 3-6 tahun mulai mematangkan kemampuan motorik dan berbahasanya. Dia juga bisa mengamati dan mengekplorasi lebih bayak. Dia juga memiliki inisiatif yang tinggi untuk bertindak. Inisiatif anak bisa terganggu bila selalu diberi hukuman atau kritikan. Dia akan menjadi anak yang memiliki rasa bersalah yang tinggi dan rasa tidak peduli. Namun inisiatif yang berlebihan tanpa arahan juga tidak dibenarkan. Jadi ayah dan bunda perlu memberikan batasan yang jelas.

4. Tekun vs rendah diri antara 6 - 12 tahun
Si kecil yang sudah mau menginjak masa remaja mulai mengembangkan rasa bangga akan identitasnya. Dukungan dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya bisa membangun rasa kompeten dan percaya diri anak yang sehat lewat kompetisi yang mendidik sehingga si kecil memiliki pencapaian plus pengalaman baru. Kurangnya prestasi dan dukungan akan membuat dia menjadi anak yang merasa tidak kompeten dan tidak produktif.

5. Identitas vs. Kebingungan peran antara 12 - 18 tahun
Seorang anak remaja suka melakukan banyak hal baru untuk mencari tahu jati diri mereka yang sebenarnya. Dia pun bersosialisasi dengan orang-orang yang mirip dengannya dalam proses pencarian tersebut. Ketika dia menemukan perannya dan didukung orang tua, maka dia mendapat identitas yang positif. Bila dia mendapat banyak penolakan, dia akan mengalami krisis identitas dan tidak yakin akan hasrat dan rasa percaya dirinya.

6. Keintiman vs. Isolasi antara 18 - 35 tahun
Tahap pertama perkembangan kedewasaan adalah ketika seseorang siap membangun hubungan yang dekat dan intim dengan orang lain. Jika sukses membangun hubungan yang erat, dia mampu merasakan cinta dan kasih sayang. Untuk mendapatkan hubungan yang sehat, sangat bergantung pada pertumbuhan di masa-masa sebelumnya. Bila gagal menjalin hubungan, dia akan merasa terasing atau kesepian.

7. Bangkit vs. Stagnan antara 36 - 64 tahun
Tahap kedua perkembangan kedewasaan ini dilambangkan dengan kemapaman. Dia memiliki karir yang maju dan rumah tangga telah tercapai akan memberi dia sebuah perasaan akan memiliki tujuan. Namun bila dia tidak puas dengan alur hidupnya, dia akan hidup dalam penyesalan dan stagnan.

8. Integritas vs. Keputusaan di usia 65 tahun ke atas
Pada usia 65 tahun ke atas, seseorang senang mengenang kembali masa lalunya. Dia berusaha menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan. Bila dia berhasil melewati tahap ini, maka dia akan mendapat kebijaksanaan. Namun kegagalan bisa mengakibatkan dia putus asa.
Demikian landasan teori perkembangan anak Erikson yang juga berlanjut hingga usia tua. Apakah ayah bunda setuju? Share pendapatnya ya.

Monday, August 20, 2018

Macam macam Teori Perkembangan Anak Yang Bunda Perlu Tahu



Penelitian terhadap perkembangan anak sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala. Mereka membahas dari berbagai sisi seperti sosial, fisik, kejiwaan lalu terjadilah macam macam teori perkembangan anak. Simak yuk bunda!

1. Teori Piaget
Piaget melakkan wawancara 4-12 tahun dan mengamati ada dua tahap perkembangan terkait moralitas.

* Moralitas heterogen: tahap pertama dari tahap perkembangan anak di area moralitas menunjukkan anak berpikir peraturan adalah sesuatu yang dikontrol oleh orang dewasa dan tidak dapat diubah.
* Moralitas otonomi: tahap kedua ini dimulai sejak anak menginjak usia 7 tahun atau masa transisi. Si kecil sudah bisa memahami aturan, menilai konsekuensi sebelum akhirnya mengambil keputusan. Ketika si kecil sudah memahami semua ini, dia juga segan untuk melawan peraturan.

2. Menurut Maria Montessori
Maria Montessori menyatakan pembelajaran yang dilakukan dalam bentuk permainan akan membuat si kecil lebih paham. Dia membagikan kepada orang tua tiga point pentingnya yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif berkaitan dengan kemampuan anak dalam berpikir. Afektif adalah perkembangan si kecil yang berkaitan dengan emosi. Psikomotor adalah perkembangan dari belajar gerak atau aktifitas fisik.

3. Teori Monks, dkk
Monks, dkk menyimpulkan perkembangan adalah suatu proses menuju kesempurnaan yang tidak bakal terulang. Hal ini terkait dengan perkembangan secara fisik, bentuk dan fungsi fisiologis anak-anak yang terus bertumbuh hingga menginjak dewasa muda.

4. Teori Robert Havighurst
Dia menyebutkan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak-anak akan mengamati orang tuanya dan juga orang-orang di sekitarnya dan ingin melakukan apa yang dilakukan mereka. Hal ini bisa terlihat dari dia belajar berjalan, berlari, bermain sepeda, menyebutkan nama, makan dan masih banyak lagi. Menurut Robert Havighurst, mengamati adalah tugas perkembangan si kecil.

5. Teori Erik Erikson
Erik Erikson sangat dikenal dengan teori perkembangan psiko sosialnya. Dia mempercayai kepribadian manusia berkembang dalam beberapa tingkatan dimulai dari persamaan ego. Persamaan merupakan perasaan yang tercipta dari interaksi sosial. Setelah itu akan terjadi perkembangan ego yang ditimbulkan oleh pengalaman, informasi-informasi baru dan interaksi sosial dengan orang berbeda atau hubungan yang lebih dekat.

6. Teori Urie Bronfenbrenner
Dia mencetuskan teori perkembangan berdasarkan lingkungan di sekitar si kecil dan membentuknya:
* Mikrosistem: orang tua, guru, hewan peliharaan atau apapun yang dekat dalam kehidupan sehari-hari
* Mesosistem: hubungan sosial dan interaksi dengan orang tua, lingkuragan rumah atau skeoalh
* Eksosistem: peraturan sosial yang mungkin tidak terjadi langsung pada si kecil
* Makrosistem: budaya pada suatu negara atau gaya hidup yang dia temui
* Kronosistem: mengacu pada riwayat hidup

7. Teori James J. Gibson dan Roger G. Barker
Mereka menyatakan tahap perkembangan anak merupakan hasil dari penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Si kecil akan menjadi serupa dengan orang-orang yang berada di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

8. Teori Seifert dan Hoffnung
Mereka menyimpulkan perkembangan seorang anak adalah hasil dari perasaan yang tumbuh pada seseorang dan menghasilkan perubahan jangka panjang dalam hal pola pikir, skill dan hubungan sosial.

9. Teori Harlock
Harlock menyatakan perkembangan merupakan rangkaian perubahan progresif akibat adanya interaksi atau pengalaman. Semakin banyak pengalaman hidup dan interaksi yang si kecil lakukan dengan berbagai orang dan makhluk hidup, maka dia akan memiliki pemikiran dan gaya hidup yang unik. Inilah yang menyebabkan manusia sangat bervariasi.

10. Teori Santrok Yussen
Santrok Yussen berkata perkembangan terjadi terus menerus hingga mati. Perubahan ini menimbulkan sifat-sifat baru pada setiap individu. Misalkan sifat egois pada anak-anak akan berkurang setelah banyak interaksi sosial dan menyadari kebutuhan saling tolong menolong.
Macam macam teori perkembangan anak sangat menarik bukan? Namun kita bisa menarik suatu persamaan yaitu lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan si kecil. Dimulai dari bunda dan suami, saudara, guru dan masih banyak lagi. Lingkungan yang sehat akan mendukung si kecil untuk mengeluarkan perkembangan yang sehat secara alami.